Bertemu John Kerry, Luhut ‘Ingatkan’ Amerika!

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk bertemu United States Special Presidential Envoy for Climate H.E John Kerry. (Tangkapan Layar Youtube @luhut.pandjaitan)

 Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan bertemu dengan Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat untuk Iklim H.E John Kerry.

Luhut mengatakan, pertemuannya dengan John Kerry adalah untuk mengingatkan AS bahwa Indonesia sudah meresmikan sekretariat Just Energy Transition Program (JETP) di Indonesia.

“Inilah tujuan dari kunjungan saya ke Amerika Serikat kali ini, untuk bertemu dengan United States Special Presidential Envoy for Climate H.E John Kerry. Kami semua kembali mengingatkan Amerika bahwa pada bulan Februari yang lalu, kami resmi meluncurkan Sekretariat JETP Indonesia,” ujar Luhut dalam akun Instagram resminya, Jumat (14/4/2023).

Adapun bersama dengan John Kerry, Luhut juga membahas mengenai Rencana Investasi Komprehensif (CIP), termasuk rencana pensiun dini pembangkit listrik, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT), dan peningkatan nilai rantai serta kebijakan kunci.

“Kolaborasi ini nantinya akan merancang Rencana Investasi Komprehensif (CIP), yang mencakup berbagai hal mulai dari identifikasi Portofolio Program JETP seperti pensiun dini pembangkit listrik, pengembangan EBT dan peningkatan nilai rantai serta kebijakan kunci yang akan mempercepat implementasi program ini,” tambahnya.

Dengan begitu, atas pertemuannya dengan John Kerry di AS, Luhut berharap Indonesia bisa merealisasikan percepatan penurunan emisi karbon dan menyelaraskan pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Saya punya harapan besar bahwa kedatangan kami ke Amerika kali ini mampu merealisasikan akselerasi penyusutan emisi karbon di Indonesia sekaligus menyelaraskan pertumbuhan dan keberlanjutan ekonomi negeri ini,” tandas Luhut.

Seperti diketahui, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden sempat mengungkapkan pihaknya dan negara-negara maju tergabung dalam G7 berkomitmen mendanai hingga US$ 20 miliar atau sekitar Rp 302 triliun (asumsi kurs Rp 15.116 per US$) untuk mempercepat pelaksanaan transisi energi di Indonesia, khususnya untuk meninggalkan penggunaan batu bara sebagai sumber energi.

Hal tersebut disampaikannya dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Bali, Selasa (15/11/2022). Komitmen tersebut merupakan inisiasi atas program Just Energy Transition Partnership (JETP) oleh negara-negara G7 untuk membantu RI mencapai target Net Zero Emissions (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, pihaknya kini mulai memilih program-program yang akan dimasukkan ke dalam JETP ini.

JETP sendiri merupakan inisiatif program kemitraan antara Indonesia dengan beberapa negara maju untuk memastikan pencapaian target penurunan emisi gas rumah kaca terpenuhi.

“JETP ada beberapa negara yang akan andil. Dari target utamanya itu akan dielaborasikan mana-mana program yang akan ditargetkan dalam JETP dan bagaimana eksekusinya, itulah nanti detailnya nanti yang akan kita fokuskan,” ungkapnya saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Jumat (17/2/2023).

Menurut Arifin, JETP sendiri nantinya tidak hanya berkutat pada pengakhiran operasional lebih dini alias early retirement PLTU. Namun, program ini juga akan menyasar isu lain yang berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca.

“Nanti juga ada isu-isu lain, tapi memang yang menjadi target utama ini bagaimana pengurangan emisi yang cukup signifikan dari PLTU. Tapi dalam JETP tidak ada carbon capture, dia nanti akan ada dari skema yang lain,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*