AS Hengkang, Luhut Ungkap Penerus di Proyek Kesayangan Jokowi

Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan saat menyampaikan update Kerja Sama Indonesia - Tiongkok. (Tangkapan Layar Youtube Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI)

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan angkat suara perihal hengkangnya perusahaan petrokimia asal Amerika Serikat (AS) yakni Air Products and Chemicals Inc dari proyek konsorsium hilirisasi batu bara menjadi Dimethyl Ether (DME) di Indonesia.

Luhut mengatakan bahwa pasca hengkangnya Air Products dari Indonesia, sudah ada perusahaan asal China yang menawarkan diri untuk menggantikan posisi Air Products.

Dia mengatakan akan menunggu kepastian itu pada Mei 2023 mendatang. “Kalau China menawarkan diri sudah sih kemarin, kita akan coba lihat bulan Mei,” ujarnya saat konferensi pers di Kemenko Marves, dikutip Jumat (14/4/2023).

Selain itu dia juga mengatakan bahwa Air Products sendiri diklaim menggunakan teknologi yang berasal dari China. Adapun masih terdapat tahapan yang masih harus dilakukan dalam mencari pengganti Air Products.

“Saya kira masih ada tahapan yang kita lebih giatkan lagi, Air Products itu kan teknologinya dari China juga ya,” jelasnya.

Seperti diketahui, Air Products sebelumnya membentuk konsorsium bersama dengan PT Bukit Asam (PTBA) dan PT Pertamina (Persero).

Tak hanya itu, Air Products juga mundur dari proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol di Kalimantan Timur bersama dengan perusahaan Grup Bakrie, yakni PT Bakrie Capital Indonesia Group dan PT Ithaca Resources yang membentuk konsorsium bernama PT Air Products East Kalimantan (PT APEK).

Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Pembangunan Infrastruktur dan Investasi, Triharyo Soesilo menyatakan, alasan hengkangnya Air Products lantaran berbagai macam hal. Diantaranya karena DME baru pertama kali ada di Indonesia.

Kemudian, regulasi yang dibuat pemerintah juga baru saja disusun. “Sementara Air Products di Amerika Serikat (AS), Joe Biden banyak memberikan insentif yang mendorong transisi energi investment, jadi mungkin dia tidak bisa menunggu terlalu lama ya,” terang Triharyo Soesilo saat ditemui di Menara Danareksa beberapa waktu yang lalu.

Sementara itu, Triharyo menyatakan belum ada partner pengganti PTBA dan Pertamina setelah hengkangnya Air Products itu. “Belum ada, sampai sekarang belum ada yang berminat,” tandas Triharyo.

Triharyo menambahkan, perusahaan China berpotensi menjadi investor potensial karena merupakan produsen DME dengan jumlah besar, mencapai 12 juta ton. “Kan DME terbesar di China 12 juta ton di sana jadi udah pengalaman biasa sih pengalaman pertamina,” kata Triharyo.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*