AS Cs ‘Panik’ Saudi Kini Akur dengan Iran, G7 Turun Tangan

A Logo of the G7 with national flags in the background are pictured during a G7 Interior Ministers Meeting in the wine estate Schloss Vollrads in Oestrich-Winkel, western Germany, on November 17, 2022. (Photo by Hannes P Albert / POOL / AFP)

– Menteri Luar Negeri (Menlu) negara-negara Kelompok G7 akan menggunakan pembicaraan di Jepang pekan depan untuk menilai strategi mereka di Timur Tengah (Timteng). Hal ini terjadi pasca terjadinya perdamaian Arab Saudi dan Iran yang diinisiasi China.

Para menteri G7 yang beranggotakan Prancis, Inggris, Jerman, Italia, Kanada, AS, dan Jepang, akan mengadakan pertemuan di Jepang antara 16 hingga 18 April. Salah satu diplomat Prancis mengatakan akan dilakukan konfigurasi ulang atas kebijakan aliansi itu di Timur Tengah.

“Kawasan ini sedang mengalami pergolakan serius, baik itu aspek krisis nuklir Iran, tetapi juga rekomposisi keseimbangan geopolitik dengan kesepakatan Iran, Saudi, China. Kita bisa melihat sesuatu terjadi dengan Suriah setelah gempa,” katanya kepada¬†Reuters, Jumat, (14/4/2023).

Sebelumnya, Iran dan Saudi sepakat untuk memulihkan hubungan diplomatik setelah terputus selama 6 tahun terakhir. Hal ini disetujui setelah China menjamu keduanya di Beijing bulan lalu.

Hal ini memunculkan efek domino, dengan Riyadh mulai menormalisasi dengan Suriah yang dipimpin Presiden Bashar Al Assad yang disokong Teheran. Tak hanya itu, Saudi juga sedang berunding dengan kelompok Houthi di Yaman yang selama ini didukung Iran.

Perdamaian ini pun memicu pertanyaan terkait apakah memang peran AS telah memudar di kawasan itu. Apalagi, Iran dan Suriah telah dianggap berseberangan dengan Washington, sementara yang berdamai adalah Saudi yang notabenenya sekutu penting AS. Peran China, yang juga rival Negeri Paman Sam, juga ikut diperbincangkan.

Riyadh sendiri memang telah mempertanyakan komitmen keamanan AS untuk wilayah tersebut dan memilih untuk tetap netral atas perang Rusia melawan Ukraina. Ini akhirnya mendorong mereka untuk mendiversifikasi hubungan mereka, termasuk dengan China, daripada mengandalkan Barat.

“G7 harus bisa menjaga kepentingan keamanannya, yang notabene juga untuk kepentingan keamanan kawasan, tapi juga keamanan global,” ujar diplomat tersebut.

Beberapa diplomat Eropa mengeluhkan fenomena ‘kelelahan’ dalam memandang Timteng, yang akhirnya mendorong beberapa negara penting di kawasan itu mengambil jalannya sendiri.

“Kesepakatan Iran-Saudi-China adalah gejala dari masalah kita. Tidak ada yang melihatnya datang, jadi kita perlu berkumpul kembali secara kolektif,” kata diplomat negara G7 lainya.

Seorang diplomat Barat ketiga mengatakan sudah waktunya bagi G7 untuk mempertimbangkan dinamika baru di kawasan itu, mencatat bahwa upaya yang dipimpin Arab Saudi untuk mengatur pemotongan minyak OPEC, yang bertentangan dengan keinginan Barat, telah menjadi sinyal lain.

“G7 hanya akan tetap kredibel jika mampu menangani masalah dunia,” ujarnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*